T0921
basri hasan
Forums |
Dahulu, saya hampir saja terjebak dalam kontrak KPR yang tenornya terasa seperti "hukuman" seumur hidup. Melihat angka bunga yang terus berjalan membuat saya memutar arah dan memilih cara mandiri. Saya memutuskan untuk membangun hunian saya sendiri, bata demi bata, menggunakan tabungan yang saya kumpulkan dengan telaten tanpa menyentuh plafon kredit mana pun.
Strategi "investasi fisik" menjadi tameng utama saya dalam menghadapi inflasi. Setiap kali ada sisa gaji atau rezeki nomplok, saya tidak membiarkannya mengendap di rekening bank, melainkan langsung menukarnya dengan material bangunan yang tahan cuaca. Besi beton, pasir, dan batu bata saya kumpulkan di lahan sedikit demi sedikit. Cara ini memastikan bahwa ketika pengerjaan dimulai, stok bahan utama sudah tersedia tanpa saya harus pusing memikirkan harga material yang sering melonjak tiba-tiba di pasaran.
Dalam proses pembangunan yang panjang ini, saya menyadari bahwa?rahasia bangun rumah impian?sebenarnya terletak pada manajemen ego dan kesabaran. Saya tidak memaksakan bangunan harus langsung terlihat sempurna. Saya menerapkan prinsip rumah tumbuh, di mana fokus awal hanyalah menyelesaikan "area esensial" agar layak huni. Begitu saya pindah ke rumah sendiri dan berhenti membayar kontrakan, uang sewa bulanan yang biasanya hangus kini bisa saya kumpulkan kembali untuk mempercantik ruangan lain secara bertahap.
Selain soal tahapan, saya juga sangat jeli dalam urusan material. Saya tidak merasa gengsi untuk berburu material berkualitas di tempat bongkaran gedung tua atau gudang sisa proyek. Mendapatkan daun pintu kayu jati solid atau kusen jendela yang masih kokoh dengan harga miring adalah kemenangan kecil yang sangat membantu menekan anggaran. Dengan sedikit kreativitas dan polesan, material-material ini justru memberikan kesan klasik dan mewah yang tidak ditemukan di perumahan massal.
Manajemen tenaga kerja pun saya kelola secara personal tanpa menggunakan jasa kontraktor besar. Saya memilih bekerja sama dengan tukang lokal yang ahli dengan sistem borongan per tahap pengerjaan. Dengan bertindak sebagai pengawas sendiri dan hadir di lapangan setiap sore, saya bisa memastikan setiap sak semen digunakan seefisien mungkin. Kehadiran saya di lokasi membantu meminimalisir kesalahan teknis yang seringkali menjadi pemicu pembengkakan biaya renovasi yang tidak perlu.
Memang, membangun tanpa bantuan bank menuntut napas panjang dan ketahanan mental yang kuat. Ada masa-masa di mana pembangunan harus "istirahat" selama beberapa bulan karena dana sedang difokuskan untuk kebutuhan lain, dan itu tidak masalah. Kepuasan saat akhirnya rumah itu berdiri tegak tanpa ada satu pun tagihan bunga bank adalah kemewahan yang tidak bisa ditukar dengan apa pun. Rumah ini adalah simbol kebebasan finansial yang saya bangun dengan keringat dan rencana yang matang.