T0921
basri hasan
Forums |
Ada masa dalam hidup ketika kita sibuk mengejar banyak hal sekaligus. Mengejar karier, mengejar penghasilan, mengejar kenyamanan masa depan. Namun dalam kejaran itu, tanpa terasa kita justru kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali: waktu bersama keluarga. Dan liburan sekolah selalu datang sebagai pengingat halus?seolah berkata,?jika bukan sekarang, lalu kapan lagi?
Di dalam banyak rumah, detik-detik menuju liburan sekolah bukan hanya soal jadwal semester. Ada keheningan batin yang hanya orang tua yang paham. Di satu sisi, mereka bahagia karena anak-anak akan beristirahat. Di sisi lain, mereka menyadari bahwa inilah satu-satunya kesempatan untuk menciptakan kenangan yang kelak akan menentukan bagaimana anak mengingat masa kecilnya.
Anak-anak tidak selamanya kecil. Itu kenyataan yang menyakitkan sekaligus indah. Hari ini mereka memanggil kita dengan mata penuh harapan. Besok, mereka mungkin sudah memiliki dunia sendiri. Karena itu,?tips liburan sekolah?ini ada masa ketika liburan keluarga bukan hanya ide?tetapi kebutuhan emosional untuk memastikan bahwa hati tetap berdekatan meski waktu terus berjalan.
Bayangkan sebuah keluarga yang akhirnya memutuskan untuk berlibur setelah bertahun-tahun menunda. Mereka naik mobil atau pesawat dengan perasaan campur aduk. Anak-anak sibuk memilih kursi, orang tua memastikan semuanya aman. Namun setelah semua perjalanan dimulai, sesuatu terjadi?percakapan yang selama ini hilang kembali muncul. Anak yang biasanya sibuk dengan sekolah mulai bercerita tentang mimpinya. Orang tua mulai bertanya, bukan sekadar ?gimana sekolah?? tetapi ?apa yang kamu rasakan?? Hubungan yang selama ini samar mulai tumbuh kembali.
Itulah kekuatan liburan keluarga.
Destinasi sebenarnya hanya panggung. Entah itu Bali dengan debur ombak yang memanggil nama, Yogyakarta dengan keramahan tiap sudutnya, Bandung dengan kesejukan yang merangkul, atau Malang dengan keindahan alamnya. Bahkan perjalanan ke negara lain?Jepang, Korea, Malaysia, Thailand, Turki?semuanya hanyalah latar untuk sesuatu yang jauh lebih penting: waktu bersama.
Namun ada pula keluarga yang memilih perjalanan ke Tanah Suci. Dan bagi mereka, liburan itu bukan hanya perjalanan, melainkan titik balik kehidupan. Orang tua menangis bukan karena sedih, tetapi karena bahagia bisa melihat anak-anak ikut sujud di hadapan Allah سبحانه وتعالى. Anak-anak merasakan sesuatu yang tidak mereka pahami sepenuhnya, tetapi hati mereka lembut setelahnya. Di Masjidil Haram, di Masjid Nabawi, seluruh anggota keluarga merasakan sesuatu yang sama?kehangatan, kedamaian, harapan. Dan mereka pulang bukan hanya sebagai keluarga, tetapi sebagai jiwa-jiwa yang saling terikat lebih kuat dari sebelumnya.
Tidak semua liburan akan seperti itu. Tapi setiap liburan yang direncanakan dengan hati akan membawa perubahan. Seorang ayah yang jarang tersenyum mulai tertawa lagi. Seorang ibu yang selalu menahan lelah akhirnya merasa dirangkul. Seorang anak yang mulai tertutup tiba-tiba kembali terbuka. Liburan membuat keluarga mengingat bagaimana caranya saling memeluk, bukan hanya saling mengandalkan.
Kadang, kita lupa bahwa anak-anak mengukur cinta bukan dari harga hadiah, tetapi dari waktu dan perhatian. Mereka tidak akan ingat daftar belanjaan atau cicilan, tapi mereka akan ingat saat kita memegang tangan mereka menyeberang jalan. Mereka akan ingat suara tawa di restoran, permainan tebak-tebakan di perjalanan, ataupun foto keluarga yang tidak sempurna tapi penuh cinta.
Ada banyak orang tua yang baru menyadari hal itu ketika semuanya terlambat: saat anak-anak sudah begitu dewasa hingga liburan bersama bukan lagi prioritas. Dan menyadari itu terlalu terlambat adalah rasa sakit yang tidak ingin dialami siapa pun.
Karena itu, liburan sekolah bukan sekadar liburan. Itu adalah cara untuk mengatakan ?Aku memilih waktu untukmu,? bukan hanya ?Aku mencintaimu.? Untuk banyak anak, tindakan itu jauh lebih bermakna daripada kata-kata.
Dan jika suatu hari nanti, mereka tumbuh dewasa dan hidup terpisah, mereka akan mengingatnya bukan sebagai perjalanan wisata. Tetapi sebagai tempat di mana mereka merasa ?rumah? tidak hanya sebuah bangunan?melainkan orang-orang yang bersamanya.
Pilihannya bukan apakah liburan sekolah perlu atau tidak. Pilihannya adalah apakah kita ingin memberikan kenangan terbaik atau membiarkan waktu berlalu begitu saja. Tahun ini, bulan ini, liburan sekolah ini?jadikan momen itu milik keluarga. Rencanakan destinasi, siapkan jadwal, simpan telepon sesekali, hadir sepenuhnya, dan biarkan hati bekerja.
Tidak ada yang lebih berharga daripada keluarga. Tidak ada yang lebih menyembuhkan daripada momen bersama. Dan tidak ada waktu yang lebih tepat daripada sekarang?sebelum kesempatan itu hilang, sebelum anak-anak tumbuh terlalu cepat, sebelum rutinitas kembali mengambil segalanya dari kita.
Jika tidak sekarang, kapan lagi?